Dengan Alasan Penanganan Sementara Untuk Mengurangi Risiko Kecelakaan Akibat Arus Mudik Lebaran, Proyek Reservasi Jalan dan Jembatan Sidas-Tanjung-Sanggau-Sosok Dengan Nilai Anggaran Sebesar Rp 5.677.094.000." Namun Sampai Lewat Lebaran, Lubang Yang di Gali Tidak di Tambal Kembali, Beberapa Yang di tambal kembali Rusak.
Sanggau, Kalimantanpost.online - Proyek perbaikan ruas jalan nasional di perbatasan Kabupaten Landak dan Kabupaten Sanggau menuai kritik tajam dari masyarakat.
Pasalnya, proses perbaikan jalan terkesan asal-asalan, di mana banyak lubang yang hanya digali tanpa dilakukan penambalan yang layak.
Lebih parah lagi, aspal yang baru ditambal sulam sudah mengalami kerusakan parah. Hal ini diungkapkan oleh warga yang rumahnya berada di dekat lokasi pengaspalan saat awak media melintas pada Minggu, 30 Maret 2025.
Selain itu, peralatan yang digunakan dalam proyek yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ini diduga tidak sesuai standar.
Proyek ini merupakan bagian dari reservasi jalan dan jembatan Sidas-Tanjung-Sanggau-Sosok dengan nilai anggaran sebesar Rp 5.677.094.000.
Metode patching yang digunakan dalam proyek ini seharusnya mencakup langkah-langkah berikut:
1. Aspal dicutting berbentuk segiempat dengan asphalt cutting sesuai panjang dan lebar kerusakan aspal.
2. Hasil cutting aspal dibongkar dan dibuang menggunakan hammer jack.
3. Jika agregat LPA di bawah aspal yang dibongkar rusak, maka LPA tersebut harus dibongkar, dibuang, dan diganti dengan LPA baru yang dipadatkan.
4. Jika setelah LPA dibongkar ditemukan kerusakan hingga ke LPB, maka LPB tersebut juga harus dibongkar, dibuang, diganti, dan dipadatkan dengan LPB baru.
5. Pemadatan LPB dan LPA di lubang kecil dapat dilakukan menggunakan stemper.
6. Setelah LPA dipadatkan, aspal bisa dihampar secara manual hingga menutupi lubang dengan ketebalan yang sesuai, lalu dipadatkan menggunakan baby roller atau pedestrian roller.
7. Untuk kerusakan aspal yang mencakup seluruh badan jalan, seharusnya menggunakan metode holding, bukan sekadar patching. Metode kerja dan alat yang digunakan juga harus sesuai dengan standar pekerjaan aspal Divisi 6, terutama karena jalan ini merupakan jalan nasional yang dananya bersumber dari APBN.
Pertanyaannya, apakah telah dilakukan survei, pengambilan data, dan perencanaan khusus di titik-titik perbaikan ini? Ataukah hanya sekadar menambal tanpa mempertimbangkan ketahanan jalan dalam jangka panjang?
Selain itu, proses perbaikan seharusnya mengikuti prosedur yang benar, termasuk penerapan lapis resap aspal cair atau emulsi setelah LPA, serta penerapan manajemen lalu lintas dan keselamatan kerja (K3).
Seharusnya ada pengaturan lalu lintas seperti pemasangan traffic cone dan kehadiran petugas flagman.
Untuk perbaikan yang mencakup seluruh badan jalan, perlu dilakukan pengujian kualitas aspal dengan metode core sampling guna memastikan spesifikasi teknisnya sesuai dengan standar jalan nasional.
Salah satu sumber terpercaya mengungkapkan bahwa kontraktor yang ditunjuk untuk ruas Sidas-Sanggau-Sosok-Simpang Ampar diduga merupakan permainan orang dalam.
Lebih lanjut, kontraktor ini disebut tidak memiliki peralatan aspal yang lengkap, sehingga menimbulkan kecurigaan adanya permainan dalam proyek ini.
Ketika dikonfirmasi melalui WhatsApp, pihak pelaksana menjawab, "Iya pak, itu penanganan sementara untuk mengurangi risiko kecelakaan akibat arus mudik."
Masyarakat berharap pemerintah dan pihak terkait segera turun tangan untuk memastikan perbaikan jalan dilakukan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan demi keselamatan pengguna jalan dan ketahanan infrastruktur dalam jangka panjang.
( Tim redaksi )
Belum ada Komentar untuk "Dengan Alasan Penanganan Sementara Untuk Mengurangi Risiko Kecelakaan Akibat Arus Mudik Lebaran, Proyek Reservasi Jalan dan Jembatan Sidas-Tanjung-Sanggau-Sosok Dengan Nilai Anggaran Sebesar Rp 5.677.094.000." Namun Sampai Lewat Lebaran, Lubang Yang di Gali Tidak di Tambal Kembali, Beberapa Yang di tambal kembali Rusak."
Posting Komentar